ABANG —(AHMAD FAQIH ANSHORI FATHAHILLAH)
Waktu abang masih bayi bangat .. dulu … enam ee tujuh tahun lalu, abi sering bercanda-canda bersama abang, rasanya tujuh tahun itu baru sekali … “belum lama!” walaupun sekarang abang udah dikelas dua … badanya uda gedean dikit, bagi abi … abang tetap abang yang dulu masih kayak bayi (seperti Aleeya). Abi dan Umi akan tetap menjaga Abang dan adik-adik agar kelak abang tahu apa yang harus menjadi pilihan abang.
O.. iya bang, sekarang-sekarang ini kita jadi jarang bercanda-canda, nggak seperti dulu, bahkan abang sering sekali mendapati abi marah ke abang, sorry bang ya. Kadang, abi marah karena abi kesal ngeliat pekerjaan-pekerjaan yang sudah diajarkan umi dan abi belum bisa abang kerjakan secarea sempurna. Padahal di lain waktu abang juga banyak membantu umi di rumah seperti pergi belanja ke warung mbak Puni atau pagi-pagi abang ke tukang gorengan untuk sarapan atau camilan pagi kita …. abi jarang sekali mengucapkan kata terima kasih ke abang yang udah ngos-ngosan lari nyebrang jalan becek dipinggir pematang. sekali lagi sorry bang ya.
Bang, ketika abi marah-marahin abang — abi tidak sama sekali bermaksud nyakitin hati atau fisik abang, benar sekali-sekali abi nyubit atau nepuk pantat, ngejewer telinga abang … tentu sakit rasanya … akn lebih sakit lagi kalau abi atu umi membiarkan abang dan adik-adik (sayid, hanif dan aleeya) tanpa ada panduan untuk mengarahkan kalian ….. semasih kalian menjadi anak-anak inilah masanya bagi kami orang tua kalian (abi dan umi) untuk senantiasa memberikan pengajaran, mengarahkan dan mengingatkan kalian tentang hidaup dan kehidupan ini. Karena tujuh tahun ke depan abi tidak yakin abi ada diantara kalian atau kalian berada diantara abi dan umi.
Bagi kami, kalian tidak sekedar anak-anak kami. Kalian bukan semata penyejuk pada pandangan mata. Kalian tidak setara dengan perbendaharaan yang ada dilangit dan dibumi agar digantikan untuk diberikan kepada kami. Kalian adalah amanah. Kami harus bertanggung jawab kepada Rabb Kami Allah SWT dan Dia adalah Rabb kalian pula. Dia yang harus kalian (abang dan adik-adik sembah) semasa maupun setelah (abi dan umi) ada atau tidak berada diantara kalian (anak-anak kami).
Bekas cubitan, jeweran bahkan tamparan … akan jadi penyaksi bagi kami kelak. Sudahkan kami (abi dan umi) menjalankan tugas sebagai orang tua dengan sebenar-benarnya? Tidaklah kami ingin menjadi orang tua yang lalai atas amanah tersebut.
Abang,…
Mungkin pantat, telinga, betis kamu merasa sakit bahkan hati abang pun turut sakit karenanya (omelan-omelan abi dan umi), sekali lagi antat, telinga, betis serta rasa sakit abang ini akan jadi bukti bahwa kami telah mengurus kalian … kelak di yaumul mahsyar.
(Abi – Umi)
DIarsipkan di bawah: RELASI, TINGGALKAN PESAN ANDA, TOPIK-TOPIK TERBARU | Ditandai: Bermain Yuuk!!, Cerita Anak, Dongeng Sebelum Tidur, Jalam ke Gunung, Kegiatan Sekolah, Lagu-lagu untuk anak, Lihat Kebunku, Masakan Favoritku, Merantau, Rumahku, Wisata Air
